بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Sabtu, 08 Juni 2013

Dengan Apa Institusi Keluarga Dapat Terpelihara?

Ada  tiga hal yang  merupakan perangkat untuk membentuk  dan menjaga insitusi keluarga. Ketiga hal yang dimaksud adalah:  pertama nilai-nilai agama, kedua kontrol sosial masyarakat dan yang ketiga adalah pemerintah.
Ilustrasi - Keluarga. (zawaj)

Bagaimana peran masing-masing?

1. Agama
Sebuah institusi keluarga akan terbentuk dan terpelihara keutuhan dan keharmonisannya,  jika  melandaskan pembentukan dan pengoragnisasiannya  berdasarkan nilai-nilai agama. Seseorang yang ketika awal mula mau menikah, meniatkan dalam rangka ibadah, menyempurnakan ketaqwaan,  menjaga kesucian  dan memilih pasangan dengan kriteria dien/agama,  maka insya Allah kehidupan keluarganya  akan senantiasa penuh kebahagiaan, keberkahan dan harmonis.  Demikian juga , nilai-nilai agama akan menjadi landasan dalam setiap interaksi dan komunikasi dengan pasangan dan seluruh anggota  keluarga.  Khidmah/pelayanan  istri kepada suaminya, kasih sayang  dan nafqah yang diberikan suami  untuk keluarganya, semuanya akan  berjalan dengan penuh  ketulusan, manakala  dilandasi dengan semangat menjalankan ketaatan kepada nilai-nilai agama, dan semuanya akan berbuah pahala, yang berarti kebahagiaannya tidak berhenti di dunia saja, tapi berlanjut sampai akherat.
Nilai-nilai agama juga membentengi agar institusi keluarga tetap  kokoh berdiri dan tidak mudah tercerai berai, karena Dienul Islam berupaya keras untuk meminimalisir perceraian.  Perceraian adalah sesuatu yang halal, akan tetapi sangat dibenci oleh allah swt, sesuai hadis riwayat  abu dawud dan ibnu majah.

2. Kontrol Sosial Masyarakat
Kondisi sosial masyarakat, sedikit banyak akan mempengaruhi  kekokohan dan  keharmonisan institusi keluarga. Secara logika, yang sedikit akan terpengaruh yang banyak,  yang kecil akan terpengaruh oleh yang besar. Maka keluarga, sebagai bagian dari masyarakat,  keadaannya akan dipengaruhi oleh kondisi masyarakat. Masyarakat yang baik, dengan tokoh/pemimpin  yang bisa menjadi tauladan dalam hidup berkeluarga, aturan dan adat istiadat yang berkembang di masyarakat,  berperan besar dalam upaya menjaga/memelihara institusi keluarga. Termasuk dalam hal ini adalah  kendali  dan pengaruh dari keluarga besar. Juga  tetangga  dan lingkungan sekitar, turut serta  perangkat yang dapat  menjaga  dan melindungi eksistensi dan keutuhan keluarga.
Rasul saw bersabda: “kalian datang ke saudara kalian, maka perbaiki perjalanan, rapihkan pakaian, hingga kalian menjadi tahi lalat (titik indah) di tengah-tengah masyarakat, karena Allah tidak suka dengan segala bentuk keingkaran dan perbuatan keji” (HR Abu dawud)
Selain masyarakat  secara umum, sesungguhnya, Lembaga-lembaga Swadaya masyarakat, yayasan dan lembaga semacamnya, juga memiliki peran yang sangat strategis untuk menjaga dan memelihara isntitusi keluarga. Banyak hal yang bisa dilakukan, diantaranya: menyelenggarakan
Pusat-pusat pendidikan dan pelatihan, baik formal maupun non formal yang di dalamnya dikaji/dibahas berbagai hal terkait keluarga, misalnya  kajian parenting, kajian kesehatan keluarga, ekonomi keluarga dan sebagainya. Juga lembaga-lembaga Ziswaf berperan membantu secara materi /finansial, bagi para pemuda  yang menikah tapi memiliki keterbatasan ekonomi, juga bagi keluarga-keluarga  yang mengalami kesulitan  ekonomi.

3. Pemerintah
Peran pemerintah dalam  membentuk dan memelihara keluarga sangat besar,  terutama dalam hal  pembuatan kebijakan  yang berpihak kepada keluarga. Kebijakan yang dituangkan dalam bentuk perundangan atau peraturan daerah,  akan sangat efektif dalam menjaga  keluarga  dari berbagai ancaman globalisasi,  menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga, serta mendidik   generasi yang memiliki kekokohan jiwa, akhlak yang mulai, dan fisik yang kuat dan akal yang cerdas. Tidak bisa dipungkiri, bahwa kebijakan terkait dengan tayangan media misalnya, sangat berpengaruh terhadap kehidupan berkeluarga. Di sinilah diperlukan kebijakan atau pengaturan dari pemerintah,  sekaligus keseriusan dalam merealisasikannya dan ketegasan dalam memberikan sanksi bagi  yang melanggar.
Pemerintah juga  harus memciptakan kondisi  yang kondusif agar para pemuda yang sudah berkeinginan menikah, tidak terhalangi hanya karena masalah finansial. Penyediaan lapangan kerja, termasuk juga penentuan usia  pernikahan, akan lebih bijak jika tidak dibatasi usia biologis semata, tapi lebih ditekankan pada masalah kematangan.  Jangan sampai terjadi, pemuda dihalangi  menikah karena masalah umur, tapi disatu sisi dibiarkan melakukan pergaulan  dan seks bebas.
Sekali lagi, semua  hal –hal terkait dengan kebijakan secara umum di tengah masyarakat, menjadi kaharusan agar memperhatikan  kepentingan  dan keutuhan keluarga.
Demikianlah, keluarga adalah  batu bata, yang akan menyusun masyarakat dan negara. Posisi strategis keluarga, harus disadari oleh seluruh pihak, tanpa kecuali.
KELUARGA  adalah rumah jiwa bangsa.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/06/01/34224/dengan-apa-institusi-keluarga-dapat-terpelihara/#ixzz2Vff6C9Vv 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Kamis, 06 Juni 2013

Warna Pakaian Rasulullah SAW


Ada beberapa Warna yang sering digunakan Rasulullah SAW :















Alhamdulillah bisa belajar lebih dekat tentang kehidupan Rasulullah saw, kali ini bab Warna Pakaian.



Senin, 18 Maret 2013

Jalan itu masih panjang…




 Bismillah…
Jalan itu masih panjang…

Masih terbentang luas hamparan kebahagiaan yang menanti di depan sana.

Jalan itu masih panjang…
Masih memberikan harapan dan cita kesuksesan yang telah menanti.

Jalan itu masih panjang…
Janganlah terhenti hanya karna masa lalu yang membelenggu.
Jalan itu masih panjang…

Beranikanlah dirimu untuk menentukan langkah selanjutnya, biarlah masa lalu akan menjadi kenangan indah dalam hidupmu, menjadi kisah yang membuatmu menjadi besar seperti sekarang ini.

Jalan itu masih panjang…
Ingatlah, janji kehidupan yang lebih baik telah menunggu mu di depan sana.
Janganlah kau terjebak dalam kungkungan masa lalu yang tak akan pernah kembali.

Jalan itu masih panjang…
Bangkitlah, jangan biarkan masa lalu mu merenggut semua kebahagiaan yang bertebaran di alam semesta ini.

Jalan itu masih panjang…
Mulailah berbenah diri, menyiapkan bekal terbaik untuk menggapai janji kehidupan yang lebih baik.

Teruslah bergerak, jangan terhenti.
Teruslah berkarya, janganlah terpuruk.

Ingatlah, Tuhan tak menciptakan hanya satu kebahagiaan untukmu,
masih banyak bahagia yang tersebar jika kau mau membuka hati dan pikiranmu.

Ingatlah, masih banyak pintu kebahagiaan yang terbuka lebar untuk kau singgahi,
janganlah kau hanya terpaku pada satu pintu yang telah tertutup untukmu.
Ingatlah, bahwa Tuhan tak pernah tertidur.

Allah tak pernah berdiam diri.
Allah tak pernah membiarkanmu sendiri.
Allah tau apa yang kau butuhkan, bukan apa yang kau inginkan.

Apa yang menurutmu baik belum tentu baik dalam pandangan Allah,
dan apa yang menurutmu buruk mungkin itu adalah yang terbaik dalam pandangan Allah.
Sekali lagi, Allah tau apa yang kau butuhkan kawan, bukan apa yang kau inginkan…

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Senin, 21 Januari 2013

Kenapa Aku Diuji?





             Pernah ada seseorang yang bercerita kepadaku tentang masalah yang dihadapinya. Saat aku mencoba memposisikan diri sebagai dia, rasanya aku tidak akan mampu bertahan dalam kondisi yang saat itu ia alami. Ia bertanya kepadaku, kenapa harus ia yang mengalami cobaan seberat ini? Saat pertanyaan itu hadir, aku teringat sebuah dialog dalam film “Kiamat sudah dekat” garapan Deddy Mizwar beberapa tahun lalu.
Dialog itu terjadi antara Asrul dan ibunya. Asrul yang terlahir dari keluarga kurang mampu bertanya kepada sang Ibu yang berprofesi sebagai buruh cuci.
“Bu, kenapa kita diberi cobaan seperti ini?”
Sang ibu menjawab, “Karena Allah tahu kita mampu untuk menjalaninya.”
Begitulah kira-kira. Aku menjawab pertanyaannya dengan jawaban serupa.

Kenapa aku di uji?

      Pernahkah kita bertanya seperti itu? Entah kepada teman, orang tua, atau kepada diri sendiri? Jawabannya kemungkinan besar pasti pernah. Lalu, adakah mendapatkan jawaban yang memuaskan? Jika belum, Allah telah menjawabnya dalam QS. Al-Ankabut ayat 2-3. Di dalam ayat ini Allah mengatakan bahwa seorang hamba tidak akan dibiarkan mengatakan bahwa ia telah beriman, sebelum ia diuji. Jadi, ujian yang datang kepada kita itu adalah bentuk dari “test” yang Allah berikan, apakah kita memang benar telah beriman kepada-Nya atau hanya sekadar ucapan lisan.

Al-`Ankabut[29]:2
Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, "Kami telah beriman," dan mereka tidak diuji?


Al-`Ankabut[29]:3
Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.

Kenapa Aku Tidak Mendapatkan Apa Yang Aku Idam-Idamkan?

       Terkadang, ujian yang kita rasa berat adalah di saat kita tidak mendapatkan sesuatu yang sangat kita harapkan. Contoh, ketika kita memilih untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, namun jurusan yang kita dapatkan bukanlah seperti yang kita harapkan. Perasaan kecewa pun tak bisa ditolak. Hingga rasa down pun hadir di awal-awal perkuliahan. Tapi, life must go on!!
Ketika kondisi ini pernah dialami, maka ingatlah firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 216, yang artinya “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. “
Ya, Allah Maha Mengetahui! Ia tahu segala yang baik untuk kita, dan yang harus selalu kita ingat adalah Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan, tapi Allah akan senantiasa memberikan apa yang kita butuhkan. Keinginan manusia itu tidak akan pernah ada habisnya. Jika Allah selalu memberikan apa yang kita inginkan, bukan tidak mungkin kita akan selalu meminta lebih dan lebih, hingga kesyukuran pun tidak hadir di jiwa-jiwa ini.

Al-Baqarah[2]:216
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. 


Kenapa Ujian Seberat Ini?

     Ini lagi pertanyaan yang sering terlontar dari diri orang-orang yang sedang di uji. Pengertian “berat “di sini relative, tergantung siapa yang sedang mengalaminya. Boleh jadi di PHK itu bukan ujian yang berat menurut si A, tapi berbeda dengan si B yang merasa di PHK itu adalah kondisi yang sangat berat untuknya. Ketika terbersit perasaan “berat” dalam hati kita, ingatlah firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 286 yang artinya “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
Intinya, Allah tidak akan memberi ujian kepada seseorang melebihi batas kesanggupannya. Allah memberi ujian tersebut, karena Allah tahu bahwa kita mampu. Tapi ketika kita tidak mampu melewati ujian yang Allah beri, maka saat itu kita patut mempertanyakan keimanan kita!

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَامَا ٱكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَارَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَمِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ وَٱعْفُعَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَىٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ ﴿٢٨٦
Al-Baqarah[2]:286
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir." 

Rasa Frustasi?

           Ketika cobaan datang menghampiri, rasa frustasi pun terkadang tak bisa kita hindari. Merasa lemah dan tak mampu menjalani sisa hidup yang masih Allah berikan. Tapi Allah sudah memberi larangan dan kabar gembira dalam QS. Ali-Imran ayat 139 “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. “
Orang yang mampu melewati ujian yang Allah berikan, berarti keimanan yang ia nyatakan bukan hanya tergantung di lisan. Orang yang tidak bersikap lemah dan bersedih hati, apalagi sampai frustasi atas ujian yang Allah beri, maka telah Allah persiapkan sebuah reward yaitu derajat yang tinggi. Ketika ujian datang, anggap saja itu sebagai “promosi jabatan” yang Allah berikan untuk kita.

'Ali `Imran[3]:139
Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman. 

Bagaimana aku harus menghadapinya?

     Ujian yang Allah berikan adalah wujud dari kasih sayang Allah kepada hambanya. Ketika memberi ujian pun Allah sudah memberikan jalan keluarnya, yaitu sabar dan shalat. Hal ini tercantum dalam QS. Al-Baqarah ayat 45. Berharaplah pertolongan dari Allah melalui dua hal tersebut. Selain itu, janganlah berharap pertolongan dari siapapun atau apapun. Karena orang beriman hanya menggantungkan harapnya hanya kepada Allah.
“Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal.” (QS. At-Taubah ayat 129)
Jika rasanya tidak mampu bertahan lagi, ingatlah firman Allah dalam QS. Yusuf ayat 87 yang berisi peringatan, “dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. “

At-Taubah[9]:129
Maka jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah (Muhammad), "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy (singgasana) yang agung."
Yusuf[12]:87
Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir." 
Apa yang aku dapat dari semua ini?

    Di penghujung ujian yang Allah berikan, ada hadiah yang telah Allah persiapkan bagi hambanya yang mampu melewati ujian demi ujian hanya dengan meminta pertolongan-Nya melalui sabar dan shalat dan hanya menggantungkan harap pada-Nya, yaitu surga!
Allah berfirman, dalam QS. At-Taubah ayat 111 “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.”

At-Taubah[9]:111
Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri mau-pun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung. 

Subhanallah…

Hotel Dubai boleh mewah, tapi hotel dubai tidak sebanding dengan emeperan surga ...
pertahankan kelebihan kita, pertahankan yang bagus-bagus dan berusaha memperbaiki kekurangan kita dan juga kejelekan-kejelekan kita











Sumber: 



Kamis, 17 Januari 2013

Ibadah Kerja dengan niat awal karena ALLAH Swt



Dan katakanlah, "Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." 


حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمَّارٍ مُؤَذِّنُ مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَمِعْتُ سَعِيدًا الْمَقْبُرِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ : خَيْرَ الْكَسْبِ كَسْبُ يَدَيْ عَامِلٍ إِذَا نَصَحَ

رواه احمد

Telah menceritakan kepada kami Ishaq, telah menceritakan kami Muhammad bin Ammar juru adzan Rasulullah shalallahu ‘alihi wassalam, ia berkata aku mendengar Said Al Maqburi berkata; aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alihi wassalam bersabda:
    "Sesungguhnya hasil usaha yang baik adalah hasil usaha tangan seorang pekerja, jika ia hatinya tulus"

Hidup ini adalah perjuangan! Itu bukan hanya sekadar jargon akan tetapi begitulah adanya kehidupan terlebih lagi di masa kini, di mana segala hal terkadang diukur materi! Semoga bukan kita, bukan kita yang selalu mengukur segalanya dengan sebuah nilai keduniaan yang hakikatnya tak lah lebih dari sehelai sayap nyamuk! Masih ada hal yang lebih pantas untuk dijadikan ukuran agar kehidupan ini jauh lebih berarti. Maka ingatlah akhirat maka kau akan selamat!

Salah satu bentuk perjuangan adalah dengan bekerja, bekerja keras juga cerdas. Tak kalah penting bekerja dengan hati! Hati-hati jadi korupsi. Korupsi itu hal kecil yang terakumulasi menjadi sebuah kejahatan besar! Penjahat manusia yang harus musnah jika ingin aman sentosa kita punya negara! Aha, balik lagi pada soal bekerja! Tulus bekerja karena Allah Rabbul’izzati membuat kita lebih berarti “Sebaik-baiknya usaha adalah usaha tangan seorang pekerja apabila ia mengerjakan dengan tulus”. (Ahmad)

Ikhlas harus turut serta menjadi bagian terpenting begitu pula kejujuran. Banyak orang yang pintar sekarang ini, tapi mengenaskan di sisi lain semakin langkah orang jujur!
Berjuang sepenuh hati! Bila hanya setengah hati atau bahkan seperempat asa maka kita akan begitu dekat dengan kegagalan karena kegagalan adalah milik mereka yang melangkahkan setengah hati, tak jelas apa yang dicari (From zero to hero). Lagi pula apa nikmatnya bekerja setengah-setengah, asal-asalan, asal jadi, asal kerja bukankah hasilnya pun tak maksimal. Bukankah Allah mewajibkan kita bekerja profesional “Sesungguhnya Allah mewajibkan kebaikan (Profesionalitas) atas segala sesuatu” (HR.Muslim).

Mungkin perintah ini belum lah cukup untuk membuat kita tersadar dan bangun dari kemalasan bekerja tanpa semangat, maka coba renungkan! Paling tidak baca dengan hati, “Dan Katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. At-taubah: 105).
Sekali lagi ingat akhirat bila ingin selamat! Saat di Padang Mahsyar nanti, kita akan dipertontonkan semua adegan-adegan yang pernah kita lakoni di dunia ini. Semua perbuatan-perbuatan yang sudah kita perbuat tak kan luput bahkan kejahatan sekecil biji kurma.
Setiap kali kita dilanda lelah, pikiran penat, kerjaan numpuk bikin mumet. Kerja lembur! Dari pagi sampai malam. Sungguh pelu. Akan tetapi bersyukurlah, kita masih memiliki pekerjaan! Coba kita tengok! Pengangguran yang masih berkutat pada kabar lowongan? Atau susahnya orang-orang yang mencari nafkah dengan cara halal akan tetapi harus dibayar dengan hasil yang tak seimbang!

Oleh karena demikianlah betapa patutnya kita mencintai pekerjaan kita. Pekerjaan yang kita jalani karena Allah tidak akan membuat kita terjebak pada rutinitas, sungguh berarti, memaknai dan memaksimalkan usaha kita agar bertambah berkah. Seorang motivator kenamaan Marpaung dalam bukunya Fulfilling Life membagi bekerja dalam tiga tingkatan besar, pada akhirnya semoga kita mampu mengklasifikasikan diri kita pada tingkatan mana? Hingga kita selalu mampu meledakkan potensi dan menjalani setiap pekerjaan dengan ikhlas tanpa pamrih, paling tidak gajih! Yakni occupation, professional, dan vacation.
Occupation berarti seseorang bekerja hanya untuk menghabiskan waktu dan memperoleh sejumlah uang. Baginya tidak penting apakah naik jabatan, karier, maupun penghargaan lainnya. Tipe pekerja seperti ini yang penting asal gaji berkala. Karyawan pada tingkatan ini tindakan pertama yang dilakukan begitu masuk kantor bukannya langsung bekerja, melainkan mengobrol sana-sini, membuat mie instan untuk sarapan atau berbagi makanan yang dibawa untuk sarapan bersama.

Lain lagi karyawan yang masuk pada tingkatan professional. Mereka tidak hanya menunaikan kewajiban dan rutinitas harian, melainkan juga berfikir bagaimana agar apa yang dilakukannya setiap hari meningkat kualitasnya. Panggilan pekerjaan baginya bukan hanya sekadar untuk mendapatkan gaji dalam rangka memenuhi kebutuhannya, melainkan berusaha terus-menerus meningkatkan kompetensi diri, bahkan hingga di luar disiplin ilmunya. Tingkatan yang paling tinggi dalam bekerja adalah vacation, bagi mereka yang sudah menapak di tahap ini, beraktivitas bukan lagi suatu pekerjaan (working), melainkan sudah merupakan panggilan (calling) hati.

“Tuhan lebih tahu diriku daripada diriku sendiri, dan aku lebih mengetahui diriku daripada kalian…” Maka nilai diri kita pada tingkatan mana kita berada serta pikirkan dalam-dalam, memuhasabah diri sebelum kelak kita di hisab akan segala tingkah dan laku yang pernah dibuat. Pekerja sejati melakukan pekerjaannya dengan seluruh kemampuan diri dan hati! Tunggu apalagi? Yuk, perbaiki diri, tingkatkan ibadah kerja! Bekerja kreatif, bekerja produktif. Akhirat di hati, dunia tergenggam di tangan. Bekerja setengah hati membuat hidup tak berarti.





Ref :


http://www.alquranalhadi.com/

Ahmad, Abu Abdallah Ahmad Ibn Muhammad Ibn Hanbal (w. 246 H), Musnad Ahmad. CD

http://www.dakwatuna.com/2013/01/26741/bekerja-setengah-hati-membuat-hidup-tak-berarti/#ixzz2IHLDshW0